Entah sudah berapa kali dalam hidupku kembali ke kota nan ramah tersebut, kehangatan yang ditawarkan berbalut keramahan, cinta dalam keluarga besar yang selalu menanti, terik mentari dan kadang hujan yang menyambut, bagiku semua itu tak pernah berubah. Ada kalanya waktu berganti, usia bertambah, tapi separuh darahku tetap terdiri dari kota tersebut. Meski Jakarta yang telah membesarkanku dalam kerasnya metropolitan, sejujurnya tak ada alasan untukku merindukannya.
Dusun Pleret Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo, sebuah desa kecil di wilayah pantai selatan Yogyakarta, lalu lintasnya berada di jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Purworejo dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat dimana keberagaman yang sesungguhnya bisa kita dapatkan, tempat dimana hamparan "tegalan" alias kebun digelar disepanjang jalan. Tempat dimana pantai dan lautnya yang menggeliatkan gemuruh ombak bisa bersanding hangat dengan pegunungan Menoreh dan jajaran dataran tinggi dalam satu wilayah. Dan dari setiap tahun yang berganti, masih selalu ku jumpai kesederhanaan warga yang memikul arit setiap pagi dan sore untuk memberi makan ternak, berjalan perlahan dengan sepeda onthel tua di pinggir aspal. Ada pula yang menghabiskan waktu dengan bekerja di pabrik-pabrik, atau menghabiskan waktu dengan berladang, menanam lantas merawat hasil kebun. Sisanya, mengurus rumah tangga atau berjualan kebutuhan harian.
Waktu berjalan, menggilas setiap sisi kehidupan, mengganti yang lama dengan hal baru atau hal lama yang diperbaharui. Kata orang, Yogyakarta tak lagi sama seperti dahulu, kehidupannya sudah sulit, pembangunan dimana-mana, tapi kesenjangan sosial masih jadi penghambat kemajuan. Hotel, Villa dan segala macam tempat kongkow para ekspatriat maupun konglomerat dibangun. Bahkan di pusat kota Diskotek sudah jadi hal umum yang menggeliat tiap malamnya. Meski demikian ku dengar Malioboro sudah berbenah, memanjakan pejalan kaki dan wisatawan dengan fasilitasnya, syukurlah setidaknya jeritan para wisatawan akhirnya didengar.
Apapun yang orang umpat terhadap kota ini, aku tetap merindukannya. Mustahil rasanya menghentikan sebuah pembangunan, justru hanya berharap bahwa masyarakat asli dari kota ini tak pernah berpaling meninggalkan kotanya, agar kelak regenerasi mereka tetap terjaga, tak hilang seperti masyarakat asli yang tergusur karena kota nya berubah jadi metropolis.
Hah... apa yang sudah ku tulis hanya sebuah kata rindu yang mewakilkan kekesalan ku karena tak dapat berjumpa denganmu. Tak berarti apapun, dan rasanya tak mesti diperbincangkan...
Yogyakarta, adalah
Yogyakarta sebuah alasan untuk setiap orang yang pergi untuk kembali singgah
dengan segala kenangannya, dan perubahan adalah takdir kehidupan yang wajar
terjadi, tak ada satu hal pun yang berubah di dunia ini bahkan bagi sesuatu
yang telah lama mati. Hanya kapan dan bagaimana seharusnya perubahan itu dapat jadi sebuah hal baik bagi orang-orang....
Komentar
Posting Komentar