Langsung ke konten utama

Doctor, Forester, and Finally I'm a Midwife part 1

Semua manusia punya cita-cita, seperti hendak jadi apakah ia saat dewasa kelak, dan biasanya semua sudah dibangun sejak masa kanak-kanak. Sering kita mendengar pertanyaan dari guru TK "Kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa?" Dokter, Presiden, Insinyur, Polisi, dan beragam profesi umum yang anak-anak ketahui. Menjadi hal yang sah bagi mereka untuk bermimpi, membayangkan posisinya kelak. Meski masa depan masih terlalu buram untuk sekadar ditebak, setidaknya mereka punya tujuan bukan hanya mengikuti arus sampai mati. Yaa walau pada dewasa nanti semua bisa saja berubah. Hebat ku akui jika ada yang konsisten dengan cita-citanya sejak ia melek huruf sampai berhasil mendapatkannya. 


People change, semua berubah tidak ada yang bisa menerka sebuah perubahan akan terjadi, dan sebetulnya itu lumrah. Sepanjang hidupnya, manusia menemukan beragam hal dan pengalaman baru yang juga membuat pemikiran mereka tentang masa depan berubah. Tantangan baru, dan kegagalan jadi penyebab manusia memilih memutar kemudinya dengan mencari arah mata angin lain sebagai tujuan. Tapi angin juga berhak memutar arahnya dan meninggalkan manusia dengan pilihan yang ia bawa, yang pada akhirnya memaksa manusia membuat keputusan akan apa yang telah ia pilih, tak jarang hal yang dilematis jadi bumbu perjalanan. 



And, it happened to me. Dari kecil cita-cita ku adalah menjadi dokter, lahir dari keluarga yang bergelut di bidang farmasi, membuatku ingin mengharumkan nama keluarga dengan menjadi dokter khususnya dokter spesialis bedah jantung. Keluarga besar ku punya beragam profesi, Polisi, Wirausahawan, Guru, PNS, dan lainnya, tapi belum ada satu pun yang berprofesi sebagai tenaga medis. Of course I really excited to be a doctor. Dibalik itu, rasa keprihatinan ku pada dunia kesehatan di Indonesia yang masih jauh dari standar kesehatan dunia, dimana masyarakat di pedalaman tak pernah tersentuh program kesehatan dari pemerintah, jadi alasan yang menguatkan keinginanku. Usaha dan ikhtiar sudah tentu jadi bagian dari perjalanan ku mewujudkannya, sebanyak apapun orang berkata tentang keinginanku tak membuatku gentar beralih. 



Cita-cita mulia yang bertahan hampir 11 tahun sejak duduk dibangku Sekolah Dasar ini akhirnya kandas tanpa alasan yang jelas. Terserah kalian akan mengumpatku dan mengatakan bahwa aku pecundang, yang menyerah tanpa alasan setelah mengetahui persaingan sesungguhnya diluar sana, aku terima, tapi biarkan aku menyelesaikan tulisan ini. Menginjak tahun terakhir di SMA, dan setelah melakukan research tentang lingkungan di alam bebas, pilihan ku berubah. Kasus pembalakkan hutan liar dan pembakaran hutan menarik perhatian ku terutama dengan status kehidupan hewan-hewan disana. Lagi-lagi tumbuh bersama rasa prihatin tentang wilayah konservasi lingkungan yang semakin mengecil. Ku bulatkan tekad ku untuk menjadi penyelamat lingkungan dengan menjadi seorang ahli Kehutanan. Perubahan drastis ini jelas lebih menyentil orang-orang didekatku untuk bertanya, mungkin kalian sudah tahu pertanyaan seperti apa yang akan terlontar. Tapi menurutku Be a Forester, is not only to save the jungle, you also save the farmers, and develop the potential of ecotourism..... 




To be continue... Λ_Λ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Rindu Untuk Yogyakarta

Entah sudah berapa kali dalam hidupku kembali ke kota nan ramah tersebut, kehangatan yang ditawarkan berbalut keramahan, cinta dalam keluarga besar yang selalu menanti, terik mentari dan kadang hujan yang menyambut, bagiku semua itu tak pernah berubah. Ada kalanya waktu berganti, usia bertambah, tapi separuh darahku tetap terdiri dari kota tersebut. Meski Jakarta yang telah membesarkanku dalam kerasnya metropolitan, sejujurnya tak ada alasan untukku merindukannya.  Dusun Pleret Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo, sebuah desa kecil di wilayah pantai selatan Yogyakarta, lalu lintasnya berada di jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Purworejo dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat dimana keberagaman yang sesungguhnya bisa kita dapatkan, tempat dimana hamparan "tegalan" alias kebun digelar disepanjang jalan. Tempat dimana pantai dan lautnya yang menggeliatkan gemuruh ombak bisa bersanding hangat dengan pegunungan Menoreh dan jajaran dataran tinggi dalam satu...

#REMINDER : Masih Banyak yang Lapar

Gambar : Buat sendiri hehehe        Assalamualaikum, I’m back to my blog! Okay, kali ini kita cerita yang ringan tapi semoga bisa menjadi pengingat buat kita seperti judulnya. Berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang lebih drama hehehe, alias lebih puitis dan sebagainya, kali ini mau nulis sesuatu yang sederhana, dengan bahasa yang juga sederhana. Semoga berkesan, mau dibaca atau tidak, yaa ini kan blog saya, paling juga saya yang baca hehehehe…             Jadi sesuai judulnya “Masih Banyak yang Lapar”, gue bukan mau me- review tentang makanan, tempat makan, or etc. Tapi lebih ke gimana caranya kita bisa menghargai makanan dengan semestinya. Kenapa demikian? Karena entah kenapa gue ngerasa beberapa manusia yang gue temui terlalu sering menghamburkan makanan dengan berbagai alasan klise seperti “Gue udah kenyang.” Atau “Iya tadi belinya kebanyakan, abis keliatannya enak-enak.” Atau yang lebih parah “...