Sampai pada pembahasan untuk jadi seorang ahli Kehutanan pada bagian sebelumnya, kali ini akan ku tuntaskan bagaimana tujuan akhir cita-citaku. Aku tipikal orang yang setia pada satu hal sampai hanya keadaan atau takdir yang dapat merubah keinginanku. Kata orangtua ku aku cukup keras kepala terutama untuk hal seperti ini. Keteguhan ku untuk jadi rimbawan membawa ku pada pilihan akhir di kelas 12, sama seperti remaja lain yang sibuk mencari kampus sana sini dan menimbang nasibnya dengan segudang ujian, aku pun melakukan hal yang sama. Dari kecil cita-cita ku adalah kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebuah kampus tertua di Indonesia dengan kualitas dunia, biaya hidup murah, keluarga besar disana, apa yang kurang dari tempat tersebut buatku. Satu hal, sekolah SMA ku memang tidak memberi peluang besar untuk tembus jalur SNMPTN disana, kecil kemungkinannya, that's why aku juga berusaha untuk belajar supaya tembus SBMPTN sebagai jalur masuk kesana. Tapi, lagi-lagi terlena dengan kuota masuk yang besar tapi persaingan yang kecil dibanding Fakultas lain, jadi buatku optimis bahkan akhirnya berharap besar pada SNMPTN. Waktu itu aku ingat betul dengan percaya diri ku pilih Kehutanan UGM sebagai pilihan pertama, disusul dengan Agronomi UGM di pilihan kedua, dan Biologi UNJ di pilihan terakhir.
Beberapa hari setelah pendaftaran SNMPTN itu, seorang guru Fisika sekaligus pembina ekskul yang pernah ku jabat menanyakan pilihan itu pada ku. Aku paham beliau tidak bermaksud merendahkan kemampuanku, dia tahu semua nilai-nilai ku dari awal masuk seperti apa, tapi ia justru mengatakan "Kenapa harus UGM buat ambil Kehutanan, padahal kalau kamu ambil IPB pasti masuk" kata Pasti jadi menggambarkan pertanyaan ihwal keyakinan beliau bahwa aku salah ambil kampus. Meski saat itu tak ada yang bisa menjamin, tapi pengalaman beliau menangani anak kelas 12 sudah terlanjur mumpuni. Aku tetap bersikukuh dengan pilihanku, doa selalu terpanjat dalam setiap sholat, usaha pun tak henti ku lakukan, tiba hari pengumuman SNMPTN, rasa ragu tapi penasaran jadi dominansi tak teratur dalam denyut jantungku, sementara di handphone ku bergetar membawa kabar dari teman-teman sekolah di grup maupun teman organisasi dimana beberapa dari mereka lolos SNMPTN. Denyut jantungku makin tak karuan, tak ada irama lagi, bergerak semaunya, sampai lingkaran loading berakhir dan sebuah kalimat berwarna merah tertulis di laman web SNMPTN, menandakan aku adalah bagian dari teman-teman yang gagal dalam pentas masuk Universitas terbesar itu. Hancur, jelas terlebih ku buka web itu dihadapan kedua orangtua ku. Berusaha sekuat baja menahan tangis, karena aku tak mungkin menyerah di hadapan kedua orang tua ku yang masih terus memberi semangat untuk ikut SBMPTN.
Jelang pendaftaran SBMPTN, disinilah konflik terjadi, rupanya kedua orangtua ku tak lagi setuju aku mengambil jurusan yang sama di kampus yang sama, alasan perekonomian keluarga yang kembang kempis saat itu memaksa mereka meminta ku untuk tetap di Jakarta dan melanjutkan studi di kota ini. Sekuat tenaga aku bernegosiasi dengan mereka untuk tetap mengizinkan ku merantau ke Yogyakarta atau ke Purwokerto dimana ditempat itu memang keluarga besar ku tinggal, mereka tetap tak mengizinkanku sampai akhirnya muncul pernyataaan "terserah" dari mulut mereka. Dihadapkan ke kalutan, aku tetap memperjuangkan keinginan ku meski hanya satu tempat tersisa, dua kesempatan lain ku berikan untuk keinginan kedua orangtua. Disinilah aku tak pernah menyadari bahwa ada satu hal yang ku lewatkan, kecil tapi jelas akan jadi batu sandunganku.
Selain mendaftar SBMPTN, aku mencoba mencari peluang lain dengan ikut tes penerimaan di 2 Perguruan Tinggi Kedinasan, yang pertama kali ku coba adalah Politeknik Akademi Pimpinan Perusahaan milik Kementrian Perindustrian, aku ikut ujian tersebut dan akhirnya lolos pada jurusan Perdagangan Internasional Wilayah ASEAN dan RRT. Tapi karena suatu alasan, dengan berat hati ku lepas kesempatan itu, kata orang hidup itu penuh dengan pilihan, dan setiap pilihan itulah yang menguji kedewasaan kita menanggapi pilihan kesempatan dalam hidup. Tak henti mencoba aku pun mendaftarkan diri ikut Ujian Tulis Poltekkes Kemenkes Jakarta III, meski sebelumnya aku juga sudah ditolak masuk disana lewat jalur undangan. Ibu jadi salah satu orang yang selalu meyakinkan aku, kalau beberapa penolakan pasti berbuah manis pada sebuah akhir yang indah, dan entah ada kekuatan magis dari mana kata-kata itu sungguh menjadi kenyataan, kata-kata yang sama dengan staff kampus APP yang mengatakan aku lebih cocok jadi Bidan. Singkat cerita, aku tak lolos juga di SBMPTN, namun selang beberapa hari teman sebangku ku memberi kabar bahagia bahwa aku dinyatakan LULUS UJI TULIS UTAMA pada Program Studi D4 Kebidanan, setengah tak percaya karena takut dibohongi apalagi yang aku tahu pengumumannya masih lusa, aku minta teman ku untuk memberi bukti foto pengumuman dan benar saja aku masuk di peringkat ke 7 dari 50 mahasiswa yang diterima di program studi itu Alhamdulillah....
Malam pengumuman itu ku peluk Ibu ku yang ada disampingku, dan lekas ku kabari sahabat-sahabat ku, sengaja ku simpan kebahagiaan ini sampai Ayah pulang kerja. Di awal aku masih sedikit merasa kecewa, kenapa aku bahkan masih di tolak di Kehutanan padahal persaingannya dengan Kebidanan jauh lebih besar Kebidanan, dan disinilah aku mengerti sepanjang pilihanku, tak satu pun ku dengar ridha dari kedua orangtua ku, toh sebesar apapun ikhtiar dan doa ku takkan jadi kenyataan saat ridha orangtua ku masih belum jadi lentera ku. Terdengar seperti sebuah konspirasi kecil tapi justru disinilah aku menyadari sehebat apapun kita orang tua adalah yang selalu mendoakan kita, dari setiap doa itu adalah sebuah ridha yang telah dipanjatkan langsung pada Allah swt. Perlahan aku mulai mencoba ikhlas menerima kenyataan yang kadang masih sulit ku terima kala pikiran untuk berpaling dibalut lelahnya perkuliahan kesehatan menyarang di otak ku. But honestly I'm very grateful to be here, where so many people want this position, and I actually here.
Note :
Dari Abdullah bin 'Amr beliau berkata; Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda; Ridha Allah pada ridha orang tua dan murka Allah pada murka orangtua (H.R.Al-Baihaqy)
Komentar
Posting Komentar