Langsung ke konten utama

DEAR MY SELF : An Introvert Girl With An Extrovert Cover


Siapa yang bisa memilih menjadi seorang introvert?

Kala sunyi kamu ada disana hanya dengan dirimu sendiri, dan kala ramai memaksamu ikut didalamnya, namun bukan berarti kamu ada disana. Terkadang senyum dan lelucon hanya jadi pemanis untuk menutup kesendirianmu. Tak ada yang tahu bahkan merasa demikian. Mereka hanya tahu apa yang mereka lihat, seumumnya, sewajarnya mereka menatap sampul buku yang terlihat menawan, meski dalamnya tak mampu kau tebak. Aku tahu ada  banyak orang introvert diluar sana, dan aku tahu mereka punya sudut pandang yang berbeda-beda. Terkadang aku ragu mengakui kalau aku begitu sunyi bahkan dalam keramaian mereka.

Tak mudah untukku bisa berkata banyak tentang aku, dan apa yang aku rasakan. Tentang apa yang aku inginkan, tentang apa yang aku harapkan dari sekian banyak orang yang ku kenal diluar sana. Tak mudah untukku menyapa diriku sendiri, sulit untuk bisa memberitahu mereka bagaimana diriku dan apa yang aku rasa. Semakin sulit ketika aku menyadari aku bahkan tidak bisa menemukan siapa sahabat ku diantara sekian banyak orang yang kutemui. Definisi sahabat yang selama ini aku telaah, pengertian sahabat yang selama ini aku dengar, bahkan tak jarang aku buat sendiri, nyatanya hanya omong kosong. Aku bahkan nggak mampu menemukannya.

Kamu mungkin menganggapku si gendut, bodoh, jelek dan gila yang bicara pada tulisannya sendiri. Tapi memang benar, aku hanya mampu bicara pada apa yang jemari ku sampaikan. Mereka yang mewakili seluruh perasaanku, sayangnya tak ada yang mampu mendengarnya, mereka semua mati. Mereka hanya menuntunku membaca kata-kata ku sendiri lalu menghilang saat aku kembali ke kehidupan ku.

Bertahun-tahun mengenal kehidupan, nyatanya tetap tak bisa membuatku paham apa dan bagaimana aku bisa berteman dan mencari kenyamanan itu. Kau mungkin bisa lihat aku bahagia kapanpun ku mau, mungkin kamu bisa lihat banyak teman-teman di sekelilingku yang bisa ku jadikan tempat berbagi bahagia, tempat aku bisa menjadi gila seperti yang kami mau. Mudah. Aku hanya perlu masuk dan ikut dalam cara mereka berteman.

Tapi aku baru sadar, aku hanya angin, selintas datang, ikut menemani dan bermain bersama, lalu pergi kala malam menjelang. Dan kemudian menjadi sunyi kembali. Ketika kesempatan bertemu seperti biasa kemudian tak ada, maka saat itulah aku bahkan tak tahu bagaimana memulai percakapan, tak tahu untuk apa aku habiskan waktu senggang, untuk apa alasan aku bertanya. Aku kembali jadi angan dalam derap angin di keramaian.

Sekarang, dua tahun sudah disini, bersama puluhan permaisuri dari para raja masa depannya. Tak jua aku dapatkan arti persahabatanku. Aku punya saudara disini, tapi aku tahu dia milik yang lain, aku punya teman yang sudah ku kenal sebelum ada disini, dan dia juga miliki kesibukannya, aku dekat dengan banyak orang disini, hanya untuk memberi tahu aku juga bisa melucu. Aku ingin bergabung, tapi nyatanya aku bahkan nggak tahu mereka bicara apa. Aku, aku, dan aku, kemudian jadi sendiri. Dan tulisan ini pun lahir dari kerisauan. Mereka? Tetap didalam, bergurau atau… entahlah tapi aku tahu itu menyenangkan.

Jika orang bijak bicara tentang mereka yang bisa jadi teman sedihmu adalah sahabat terbaikmu. Mungkin aku sebaliknya, siapa yang mampu kujadikan teman sedih? Siapa yang mampu membuatku bicara tentang apa yang aku rasakan? Aku khawatir, jika selamanya aku hanya mampu berbagi senang, tanpa bisa mengungkap duka. Bagaimana dengan kamu? Jika waktu mempertemukanku pada pendamping hidupku, apa bisa ia membuatku bercerita semua yang aku tak pernah ceritakan pada mereka? Bisa ia memahami ku saat aku bahkan tak bisa merespon diam? Kalau itu kamu, aku ragu, nyatanya aku justru yang membuatmu menjadi seterbuka itu dengan ku.

Sekarang, aku kembali. Mencoba menata tawaku seolah tadi aku hanya sedang bosan. Aku akan kembali, doakan aku tetap bahagia seperti yang mereka lihat. Dan… tulisan ini, sudah cukup, aku akan akhiri sekarang juga…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Rindu Untuk Yogyakarta

Entah sudah berapa kali dalam hidupku kembali ke kota nan ramah tersebut, kehangatan yang ditawarkan berbalut keramahan, cinta dalam keluarga besar yang selalu menanti, terik mentari dan kadang hujan yang menyambut, bagiku semua itu tak pernah berubah. Ada kalanya waktu berganti, usia bertambah, tapi separuh darahku tetap terdiri dari kota tersebut. Meski Jakarta yang telah membesarkanku dalam kerasnya metropolitan, sejujurnya tak ada alasan untukku merindukannya.  Dusun Pleret Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo, sebuah desa kecil di wilayah pantai selatan Yogyakarta, lalu lintasnya berada di jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Purworejo dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat dimana keberagaman yang sesungguhnya bisa kita dapatkan, tempat dimana hamparan "tegalan" alias kebun digelar disepanjang jalan. Tempat dimana pantai dan lautnya yang menggeliatkan gemuruh ombak bisa bersanding hangat dengan pegunungan Menoreh dan jajaran dataran tinggi dalam satu...

#REMINDER : Masih Banyak yang Lapar

Gambar : Buat sendiri hehehe        Assalamualaikum, I’m back to my blog! Okay, kali ini kita cerita yang ringan tapi semoga bisa menjadi pengingat buat kita seperti judulnya. Berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang lebih drama hehehe, alias lebih puitis dan sebagainya, kali ini mau nulis sesuatu yang sederhana, dengan bahasa yang juga sederhana. Semoga berkesan, mau dibaca atau tidak, yaa ini kan blog saya, paling juga saya yang baca hehehehe…             Jadi sesuai judulnya “Masih Banyak yang Lapar”, gue bukan mau me- review tentang makanan, tempat makan, or etc. Tapi lebih ke gimana caranya kita bisa menghargai makanan dengan semestinya. Kenapa demikian? Karena entah kenapa gue ngerasa beberapa manusia yang gue temui terlalu sering menghamburkan makanan dengan berbagai alasan klise seperti “Gue udah kenyang.” Atau “Iya tadi belinya kebanyakan, abis keliatannya enak-enak.” Atau yang lebih parah “...