Siapa yang bisa memilih
menjadi seorang introvert?
Kala sunyi kamu ada
disana hanya dengan dirimu sendiri, dan kala ramai memaksamu ikut didalamnya,
namun bukan berarti kamu ada disana. Terkadang senyum dan lelucon hanya jadi
pemanis untuk menutup kesendirianmu. Tak ada yang tahu bahkan merasa demikian.
Mereka hanya tahu apa yang mereka lihat, seumumnya, sewajarnya mereka menatap
sampul buku yang terlihat menawan, meski dalamnya tak mampu kau tebak. Aku tahu
ada banyak orang introvert diluar sana, dan aku tahu mereka punya sudut pandang yang
berbeda-beda. Terkadang aku ragu mengakui kalau aku begitu sunyi bahkan dalam
keramaian mereka.
Tak mudah untukku bisa
berkata banyak tentang aku, dan apa yang aku rasakan. Tentang apa yang aku
inginkan, tentang apa yang aku harapkan dari sekian banyak orang yang ku kenal
diluar sana. Tak mudah untukku menyapa diriku sendiri, sulit untuk bisa
memberitahu mereka bagaimana diriku dan apa yang aku rasa. Semakin sulit ketika
aku menyadari aku bahkan tidak bisa menemukan siapa sahabat ku diantara sekian
banyak orang yang kutemui. Definisi sahabat yang selama ini aku telaah,
pengertian sahabat yang selama ini aku dengar, bahkan tak jarang aku buat
sendiri, nyatanya hanya omong kosong. Aku bahkan nggak mampu menemukannya.
Kamu mungkin
menganggapku si gendut, bodoh, jelek dan gila yang bicara pada tulisannya
sendiri. Tapi memang benar, aku hanya mampu bicara pada apa yang jemari ku
sampaikan. Mereka yang mewakili seluruh perasaanku, sayangnya tak ada yang
mampu mendengarnya, mereka semua mati. Mereka hanya menuntunku membaca
kata-kata ku sendiri lalu menghilang saat aku kembali ke kehidupan ku.
Bertahun-tahun mengenal
kehidupan, nyatanya tetap tak bisa membuatku paham apa dan bagaimana aku bisa
berteman dan mencari kenyamanan itu. Kau mungkin bisa lihat aku bahagia
kapanpun ku mau, mungkin kamu bisa lihat banyak teman-teman di sekelilingku
yang bisa ku jadikan tempat berbagi bahagia, tempat aku bisa menjadi gila
seperti yang kami mau. Mudah. Aku hanya perlu masuk dan ikut dalam cara mereka
berteman.
Tapi aku baru sadar,
aku hanya angin, selintas datang, ikut menemani dan bermain bersama, lalu pergi
kala malam menjelang. Dan kemudian menjadi sunyi kembali. Ketika kesempatan
bertemu seperti biasa kemudian tak ada, maka saat itulah aku bahkan tak tahu
bagaimana memulai percakapan, tak tahu untuk apa aku habiskan waktu senggang,
untuk apa alasan aku bertanya. Aku kembali jadi angan dalam derap angin di
keramaian.
Sekarang, dua tahun
sudah disini, bersama puluhan permaisuri dari para raja masa depannya. Tak jua
aku dapatkan arti persahabatanku. Aku punya saudara disini, tapi aku tahu dia
milik yang lain, aku punya teman yang sudah ku kenal sebelum ada disini, dan
dia juga miliki kesibukannya, aku dekat dengan banyak orang disini, hanya untuk
memberi tahu aku juga bisa melucu. Aku ingin bergabung, tapi nyatanya aku
bahkan nggak tahu mereka bicara apa.
Aku, aku, dan aku, kemudian jadi sendiri. Dan tulisan ini pun lahir dari
kerisauan. Mereka? Tetap didalam, bergurau atau… entahlah tapi aku tahu itu
menyenangkan.
Jika orang bijak bicara
tentang mereka yang bisa jadi teman sedihmu adalah sahabat terbaikmu. Mungkin
aku sebaliknya, siapa yang mampu kujadikan teman sedih? Siapa yang mampu
membuatku bicara tentang apa yang aku rasakan? Aku khawatir, jika selamanya aku
hanya mampu berbagi senang, tanpa bisa mengungkap duka. Bagaimana dengan kamu?
Jika waktu mempertemukanku pada pendamping hidupku, apa bisa ia membuatku
bercerita semua yang aku tak pernah ceritakan pada mereka? Bisa ia memahami ku
saat aku bahkan tak bisa merespon diam? Kalau itu kamu, aku ragu, nyatanya aku
justru yang membuatmu menjadi seterbuka itu dengan ku.
Sekarang, aku kembali.
Mencoba menata tawaku seolah tadi aku hanya sedang bosan. Aku akan kembali,
doakan aku tetap bahagia seperti yang mereka lihat. Dan… tulisan ini, sudah
cukup, aku akan akhiri sekarang juga…
Komentar
Posting Komentar